IKLAN

Kelas Berenergi, Hati yang Berapi

Oleh: Assifa Fadila, S.Pd (Wali Kelas 3A)

November 2021 akan selalu memiliki tempat tersendiri dalam ingatan saya. Itulah bulan di mana langkah kaki saya pertama kali gemetar memasuki ruang kelas 3A. Sebagai pengajar baru, saya datang dengan idealisme tinggi, namun kenyataan menyambut saya dengan riuh rendah suara anak-anak yang energinya seolah tidak pernah habis.

Hari itu, kelas bukan lagi sekadar ruang belajar, melainkan sebuah medan tantangan. Saya berdiri di depan, mencoba memperkenalkan diri dan menjelaskan rencana pelajaran. Namun, suara saya kalah telak. Di depan saya, anak-anak asyik dengan dunianya sendiri—berbincang dengan teman sebangku, tertawa keras, hingga berlarian kecil. Ada rasa frustrasi yang sempat menyelinap, membuat saya bertanya-tanya: "Mampukah saya mengendalikan ini?"

Namun, saya memilih untuk tidak menyerah pada ego. Saya menyadari bahwa jika saya tidak bisa membawa mereka ke dunia saya, maka sayalah yang harus masuk ke dunia mereka.

Saya menarik napas dalam, lalu mengubah strategi. Alih-alih menuntut ketenangan dengan nada tinggi, saya melempar sebuah lelucon kecil. Gelak tawa pecah. Saya kemudian mengajak mereka berdiri, melakukan gerakan-gerakan fisik yang ekspresif untuk mengalirkan energi mereka yang meluap. Seketika, suasana berubah. Mata-mata kecil itu mulai tertuju pada saya, penuh rasa ingin tahu. Keajaiban terjadi; mereka mulai bertanya, menyimak, dan jatuh cinta pada pelajaran hari itu.

Tentu saja, perjalanan tidak selalu mulus. Ada hari-hari di mana metode yang sama tidak lagi mempan. Saat kelas kembali gaduh dan kata-kata saya seolah membalul di dinding, saya mencoba pendekatan dari hati ke hati.

Saya meminta mereka mengambil selembar kertas. "Tuliskan apa pun yang ingin kalian katakan," ujar saya. Melalui tulisan-tulisan jujur itu, saya melihat sisi lain dari murid-murid saya. Ada keinginan untuk didengar, ada kecemasan, dan ada imajinasi yang luar biasa. Metode ini bukan sekadar meredam kebisingan, tapi menjadi jembatan bagi mereka untuk mengekspresikan diri secara elegan.

Dari kelas 3A, saya belajar bahwa mengajar bukan hanya soal mentransfer ilmu, tetapi soal seni memahami manusia. Setiap anak adalah individu unik dengan "bahasa" yang berbeda-beda. Saya belajar untuk melipatgandakan sabar, mengasah kreativitas, dan menyelipkan humor sebagai pelumas komunikasi.

Kini, setiap kali saya melangkah masuk ke kelas, saya tidak lagi merasa terancam oleh energi mereka yang meledak-ledak. Justru, energi itulah yang membakar semangat saya. Karena saya tahu, di balik riuhnya kelas 3A, ada hati-hati yang siap dibentuk dengan kasih sayang dan kesabaran yang tak bertepi.

#Sekolah
SHARE :
IKLAN
LINK TERKAIT