
Gambar sumber Ai
Oleh: Purwanti
Ketika Sekolah Mahal Tak Menjamin Kualitas. Banyak orang tua rela berutang demi memasukkan anak ke sekolah berlabel "internasional" atau kampus "kelas dunia". Ekspektasinya jelas: fasilitas mewah, guru asing, dan jaminan masa depan cerah. Namun, kenyataan di lapangan sering kali berbicara lain. Sekolah berbiaya selangit kini banyak yang terjebak menjadi komoditas bisnis, sementara kualitas pembentukan karakter dan kesiapan kerja muridnya justru jalan di tempat. Fenomena paradoks inilah yang dikupas secara tajam tetapi membumi oleh Edi Subkhan dalam bukunya yang berjudul Pendidikan Kritis.
Mengapa sekolah mahal sering “zonk”?
Melalui buku ini, penulis menjelaskan bahwa esensi pendidikan telah bergeser dari tempat penyadaran manusia menjadi ladang bisnis (neoliberalisasi). Banyak institusi menetapkan tarif tinggi hanya untuk membiayai "bungkus luar" yang terlihat megah, seperti gedung ber-AC, lapangan olahraga standar olimpiade, atau perangkat tablet untuk setiap siswa.
Sayangnya, kemewahan fasilitas fisik tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pedagogi (cara mengajar). Buku ini secara tidak langsung membuka mata kita terhadap beberapa bukti riil di masyarakat yang menunjukkan bahwa sekolah mahal tidak otomatis berkualitas:
Sistem "Hafalan" Berkedok Kurikulum Keren: Banyak sekolah mahal yang hanya melatih siswa untuk menghafal demi mengejar skor ujian internasional (seperti PISA atau Cambridge Cambridge). Akibatnya, anak-anak pintar di atas kertas, tetapi tidak tahu bagaimana menerapkan ilmu tersebut untuk menyelesaikan masalah nyata di lingkungan sekitarnya.
Krisis Karakter dan Empati: Penilaian sekolah mahal kerap kali hanya berbasis angka akademis. Penulis mengkritik keras bagaimana karakter, jati diri, dan kepedulian sosial anak justru tidak terasah. Tidak heran jika kita sering menemui kasus perundungan (bullying) berat justru terjadi di lingkungan sekolah-sekolah elite berbiaya mahal.
Pengangguran Berijazah Mahal: Di tingkat pendidikan tinggi, biaya kuliah (seperti UKT) terus melambung dengan janji lulusan siap kerja. Nyatanya, ribuan lulusan dari kampus-kampus berbiaya mahal tetap saja berakhir di daftar panjang pengangguran terdidik karena kurikulum yang diajarkan terlalu teoritis dan tidak adaptif terhadap industri.Kesejahteraan
Guru yang Terabaikan: Ini adalah ironi terbesar. Di beberapa sekolah swasta mahal, biaya SPP murid sangat tinggi, tetapi pendapatan guru-gurunya tetap minim karena keuntungan besar justru masuk ke kantong pemilik yayasan. Ketika kesejahteraan guru diabaikan, motivasi mengajar akan turun, dan kualitas pendidikan di dalam kelas pun ikut merosot.
Meskipun judul buku ini terdengar berat dan akademis—menggunakan istilah seperti neoliberalisasi dan standardisasi—Edi Subkhan berhasil mengemasnya lewat kumpulan esai yang sangat kontekstual dengan situasi di Indonesia. Penulis menggunakan contoh-contoh kasus yang biasa kita temui sehari-hari. Hal ini membuat pembaca dari segala usia, baik mahasiswa yang sedang kuliah, orang tua yang sedang bingung memilih sekolah anak, maupun masyarakat awam, dapat langsung mengangguk setuju karena mergeser kesamaan emosi atas isu yang diangkat.
Buku ini juga memberikan tamparan keras sekaligus solusi alternatif. Pendidikan yang berkualitas bukanlah tentang seberapa mahal bayarannya, melainkan seberapa mampu sekolah tersebut memanusiakan manusia, memicu nalar kritis siswa, dan melahirkan anak didik yang peka terhadap ketimpangan sosial di sekitarnya.
Kesimpulan
Buku Pendidikan Kritis adalah bacaan wajib yang sangat relevan untuk menyadarkan kita semua bahwa pendidikan bukan barang dagangan. Resensi atas buku ini berhasil membuktikan secara riil bahwa sekolah mahal yang hanya menjual gengsi fisik tanpa menyentuh substansi berpikir kritis, pada akhirnya hanya akan melahirkan robot-robot berijazah mahal yang gagap menghadapi realitas kehidupan