IKLAN

Hidup Berkelompok dalam Islam : Boleh, Tapi Jangan Fanatik

Oleh: Zulfan Ziaulhaq, S.Pd (Guru SDMP)

Islam adalah agama yang sangat menganjurkan kebersamaan. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Dalam Islam, hidup berkelompok bukan hanya dibolehkan, bahkan dianjurkan selama bertujuan untuk kebaikan dan ketaatan kepada Allah SWT.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain bagaikan bangunan, saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan pentingnya persatuan dan kerja sama dalam kebaikan. Oleh karena itu, keberadaan kelompok, organisasi, majelis ilmu, atau jamaah dalam Islam memiliki peran besar dalam menjaga iman, menambah ilmu, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Namun demikian, Islam juga mengajarkan keseimbangan. Hidup berkelompok tidak boleh berubah menjadi fanatisme yang berlebihan. Fanatik terhadap kelompok hingga menganggap kelompoknya paling benar dan merendahkan kelompok lain adalah sikap yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sikap seperti ini justru dapat memecah belah umat dan menumbuhkan rasa sombong dalam hati.

Allah SWT berfirman: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Ayat ini menegaskan bahwa yang harus dipegang teguh adalah agama Allah, bukan fanatisme golongan. Kelompok hanyalah sarana, bukan tujuan. Kebenaran mutlak hanya milik Allah dan Rasul-Nya, bukan milik suatu kelompok atau organisasi tertentu.

Rasulullah ﷺ juga memperingatkan bahaya fanatisme golongan (ashabiyah). Ketika beliau ditanya tentang ashabiyah, beliau bersabda:

“Yaitu engkau menolong kaummu dalam kezaliman.” (HR. Abu Dawud)

Seorang muslim yang bijak adalah mereka yang mampu hidup dalam kelompok, aktif berkontribusi, namun tetap terbuka, rendah hati, dan menghormati perbedaan. Ia menilai sesuatu berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, bukan semata karena identitas kelompok.

Hidup berkelompok dalam Islam adalah hal yang baik selama membawa kepada persatuan, kebaikan, dan ketakwaan. Namun ketika fanatisme mulai mengalahkan nilai keadilan dan ukhuwah, di situlah kita perlu kembali meluruskan niat dan sikap. Karena tujuan utama kita bukan membesarkan kelompok, melainkan meraih ridha Allah SWT dan menjaga persatuan umat Islam.

Selain itu, penting untuk dipahami bahwa perbedaan dalam tubuh umat Islam adalah sesuatu yang wajar. Sejak masa para sahabat, sudah ada perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyah. Namun mereka tetap menjaga adab, saling menghormati, dan tidak mudah menyesatkan satu sama lain. Perbedaan tidak menjadikan mereka bermusuhan, karena yang mereka cari adalah kebenaran, bukan kemenangan kelompok.

Dalam sejarah Islam, banyak organisasi dan gerakan dakwah berdiri dengan tujuan mulia, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama di Indonesia. Keduanya memiliki metode dan pendekatan yang berbeda, namun sama-sama bertujuan menegakkan ajaran Islam dan membangun umat. Perbedaan cara bukan berarti perbedaan tujuan.

Fanatisme yang berlebihan seringkali muncul karena kurangnya ilmu dan sempitnya wawasan. Ketika seseorang hanya belajar dari satu sudut pandang tanpa mau memahami pendapat lain, maka ia mudah mengklaim bahwa kelompoknya paling benar. Padahal para ulama besar seperti Imam Syafi'i pernah berkata, “Pendapatku benar, namun mungkin salah. Pendapat orang lain salah, namun mungkin benar.” Sikap inilah yang menunjukkan keluasan hati dan kedewasaan dalam beragama.

Maka, mari kita jadikan kelompok sebagai sarana untuk beramal, berdakwah, dan memperkuat ukhuwah. Jangan sampai identitas kelompok lebih kita bela daripada nilai kebenaran itu sendiri. Jika kelompok kita salah, kita berani meluruskannya. Jika kelompok lain benar, kita berani mengakuinya.

Karena pada akhirnya, yang akan ditanya di hadapan Allah bukanlah kita dari kelompok mana, tetapi seberapa lurus akidah, seberapa ikhlas amal, dan seberapa besar kontribusi kita untuk umat.

IKLAN
LINK TERKAIT