IKLAN

100 Hari Melihat Diri

"100 Hari Melihat Diri" oleh Mprop Picoez al-Jingini adalah buku panduan refleksi spiritual selama 100 hari yang menggunakan pendekatan unik melalui "Khutbah Tumbuh-tumbuhan" untuk memperbaiki penyakit hati dan ego manusia. Buku ini menawarkan perenungan harian, di mana penulis berdialog dengan berbagai tanaman untuk mencontoh sifat-sifat baik mereka seperti ikhlas, tenang, dan patuh pada kodrat, yang bertentangan dengan sifat manusia yang seringkali penuh amarah dan ego. Buku ini memandu pembaca melakukan detoksifikasi batin dan pengenalan diri (man 'arafa nafsahu) secara konsisten selama 100 hari.

Guru kehidupan, tanaman diposisikan sebagai makhluk yang ikhlas, tenang, dan patuh pada kodrat ilahi. Membandingkan kesederhanaan tanaman dengan manusia yang penuh ambisi, amarah, dan dendam.

Walau berfokus pada evaluasi diri, gaya bahasa Picoez sama sekali tidak menceramahi. Keindahan tuturannya justru mampu mengetuk kesadaran pembaca untuk merenungkan kembali ketepatan sikap sehari-hari yang masih sering dikotori oleh rasa dongkol dan kecewa. Terlebih lagi, setiap akhir ulasan selalu dilengkapi dengan petuah hikmah.

Salah satu contohnya terdapat pada halaman 140 dalam bab berjudul "Rahasia", yang ditutup dengan kalimat: “Selalu ada rahasia kebaikan di balik takdir-Nya. Siapa yang tak berusaha mengambil hikmahnya, sesungguhnya dia tak pernah belajar apa-apa –selain mungkin hanya menunai amarah.”

Bab tersebut mengisahkan kemalangan anak Picoez yang mendadak tidak bisa berjalan maupun menggerakkan tangan. Setelah ditelusuri, kondisi itu terjadi akibat ulah temannya yang menarik kursi saat ia hendak duduk. Tindakan ini merupakan pelanggaran berat, sebab pihak sekolah melarang keras bercanda kelewat batas dan mengancam akan mengeluarkan pelakunya.

Namun, anak Picoez tidak juga menjawab setiap kali ditanya siapa yang melakukannya. Ia hanya menjawab dengan singkat, “Lupa, Pak” atau dengan jawaban “Rahasia.” Akhirnya Picoez merasa kesal, saat ia pergi ke halaman rumah, Pohon Anggrek bertanya padanya. Ia kemudian menceritakan duduk perkaranya Pohon Anggrek. Picoez mendapatkan saran dari Pohon Anggrek untuk bertanya kepada anaknya, mengapa jawabannya ‘Rahasia.’

Ketika mendengar pertanyaannya itu, jawaban anak Picoez di luar dugaan. Jika seandainya ia menyebut siapa yang telah menarik kursinya hingga ia jatuh, kemungkinan temannya itu akan dikeluarkan dari sekolah. Dengan dikeluarkan temannya pun tidak akan mengubah apa-apa, tak seketika sembuh. Picoez hanya diminta oleh anaknya untuk menyampaikan kepada kepala sekolah agar teman-teman anaknya dinasihati untuk tidak melakukan hal serupa. Seketika lunglailah tubuh Picoez dan lenyaplah amarahnya. Di balik kata rahasia anaknya terdapat keikhlasan. Menerima dan menjalani takdir.

Buku ini mengajak pembaca meredam nafsu (nafs), mengurai keruwetan pikiran, dan menemukan ketenangan jiwa. Pada akhirnya, pembaca dituntun untuk menjawab pertanyaan dari mana kita berasal, apa tugas kita, dan ke mana kita akan kembali.

Penulis Sinopsis: Alfina Adi

Judul: 100 Hari Melihat Diri: Diskon 60 Hari (Obrolan Bersama Tanaman)

Penulis: Mprop Picoez al-Jingini

Penerbit: DIVA Press

Tebal Buku: 239 halaman

Genre: Nonfiksi

#Sekolah
SHARE :
LINK TERKAIT