Sang Pangeran dan Janissary Terakhir

By HUMAS SDMP 05 Des 2023, 08:01:06 WIB Sekolah
Sang Pangeran dan Janissary Terakhir

Buku ini menceritakan tentang sosok Pangeran Diponegoro sebagai pribadi, orang orang yang berjuang bersama beliau termasuk 2 pasukan Janissary Terakhir ( dari Turki Usmani ). Mendeskripsikan juga bagaimana pemimpin VOC dalam menghadapi perlawanan perang gerilya, jenderal De Cock, Daendels dan Van Den Bosch terus berupaya menghalangi termasuk memecah belah kekuatan rakyat yang berjuang di belakang Sang Pangeran.

                               Diponegoro  adalah salah satu Pangeran dari Kasultanan Yogyakarta yang bersikeras melawan Belanda semenjak VOC mulai menguasai perdagangan Yogyakarta. Dan pada kenyataannya tidak semua keturunan dari Kasultanan Yogyakarta memiliki ghirah perjuangan yang sama dengan Pangeran Diponegoro.

                               Seperti halnya novel berbasis cerita sejarah lainnya, membaca Sang Pangeran juga membutuhkan kecermatan karena alur maju mundur yang disajikan oleh penulisnya. Agar situasi saat itu tergambarkan dengan jelas, karena tiap tautan waktu saling terhubung satu sama lain.

                               Novel berbasis sejarah dengan riset yang luar biasa. Prolog yang diuraikan menggambarkan begitu harmonisnya hubungan yang terjalin antara Pangeran Diponegoro dengan Daulah Ustmaniyah saat itu, Alemdar Musthofa Pasha. Melaui suratnya, Sang Perdana Menteri mengutus putranya yang bernama Nurkadam dan Nuryasmin serta penasehatnya Khatib Basah, serta dua tentara jannisaay terakhir, untuk menemani perjuangan Sang Pangeran dan mengambil peran dalam perang melawan Belanda serta menjadi bagian dari prajurit prajurit setia Sang Pangeran.

                               Pada Kenyataannya, perang Jawa yang dikobarkan Pangeran Dipogoro selama kurun waktu 1825 – 1830, telah membuat Belanda kelimpungan. Politik devide et impera tidak mampu memecah belah pendukung setia Sang Pangeran. Belanda mengalami kerugian luar biasa, ditambah keadaan politik yang juga memanas di Eropa, memperparah kondisi keuangan VOC. Kas yang hampir kosong, membuat pemerintahan Belanda menekan VOC untuk segera menyeimbangkan keuangan. Kedatangan Van Den Bosch dengan politik cultuur stelselnya digambarkan secara dramatis di novel ini. Bahwa di dalam tubuh VOC sendiri, juga tidak luput dari adanya pertikaian internal.

                               Bagian akhir novel menggambarkan bagaimana Sang Pangeran akhirnya harus terpaksa kalah. Dengan senyum tersungging di bibir Sang Pangeran yang menyiratkan rasa pahit dan malu yang tak tertangguhkan, Sang Pangeran berdiri dan membiarkan Jenderal De Kock mengapit tangan Sang pangeran dalam gandengan dan menuntunnya ke kereta kuda yang sudah disiapkan.

                               Khatib Basah, menjadi jannisary terakhir yang bertemu dengan Sang Pangeran saat di pengasingan, beliau meminta Khatib Basah untuk menuliskan buku babad yang mengisahkan tentang perjuangan jihad mempertahankan tauhid sampai akhir. Tentang bagaimana Islam dimulai di tanah Jawa melalui walisongo, perjuangan Sultan Agung Hanyokrokusuma dan Sultan Mangkubumi yang mengantarkan Kesultanan Yogyakarta menjadi perkasa dan makmur di bawah kepemimpinannya.

Aku seperti menyaksikan Sosok Sang Pangeran menggumam wirid dengan menutup mata, duduk bersila dan bersedekap di atas pualam lebar berwarna hitam, ternaungi cabang cabang pohon kemuning yang tumbuh di tengah kolam. Kelopak kelopak berwarna putih dengan semburat kekuningan yang semerbak wangi bertebaran di jubah dan serbannya, bagaikan bintang bintanag di sekitar wajahnya yang purnama. “

Pembuat Sinopsis  : Nur Laili, S.Pd

Judul Buku            : Sang Pangeran dan Janissary Terakhir

Pengarang              : Salim A Fillah

Penerbit                  : Pro U Media

Tahun terbit           : 2019

Jumlah Halaman    : 631