Mukjizat Bermental Sukses

By HUMAS SDMP 26 Nov 2023, 06:40:30 WIB Sekolah
Mukjizat Bermental Sukses

"Mukjizat Bermental Sukses" karya Maulana Wahiddin Khan adalah kisah inspiratif yang mengungkapkan prinsip-prinsip dan pandangan untuk mencapai keberhasilan dalam kehidupan. Buku ini menguraikan bagaimana seseorang dapat mengembangkan mentalitas sukses dengan fokus pada upaya, ketekunan, dan pemahaman diri. Maulana Wahiddin Khan menjelaskan bahwa keberhasilan bukanlah hasil kebetulan, melainkan hasil dari kerja keras, tujuan yang jelas, dan sikap positif. Melalui cerita-cerita motivasi dan nasihat bijak, buku ini memandu pembaca untuk mencapai potensi penuh mereka dalam mencapai kesuksesan dalam berbagai aspek kehidupan.

Sang Pencipta telah membekali mahluk-Nya dengan kemampuan yang hebat. Penemuan potensi alami yang terpendam dalam diri manusia, memberikan Pelajaran yang luar biasa besarnya. Astronot Amerika Neil Armstrong pertama kali menginjakkan kaki di Bulan pada Juli 1969. Sesaat setelah dia menginjakkan kakinya, tim pengendali di Amerika mendengar kata-kata yang diucapkannya: 

“ini satu langkah kecil bagi seorang manusia, tapi satu lompatan raksasa bagi seluruh umat manusia.”

Armstrong dan kedua temannya terpolih dari 30 astronot Amerika terkemuka. Dia memiliki semua kualitas yang dibutuhkan untuk menghadapi misi bersejarah yang tidak mudah. Melalu berbagai macam pelatihan yang keras. Misalnya, ia harus berada di kedalaman air untuk waktu yang lama agar terbiasa dalam keadaan tak berbobot.

Akhirnya mereka berhasil mendarat di Bulan. Selanjutnya mereka mengambil sekitar 20,8 kilogram tanah dari permukaannya dan meninggalkan peralatan senilain 500.000 pound di sana. Mereka juga meninggalkan jejak telapak kaki mereka di permukaan Bulan, yang diperkirakan akan tetap utuh hingga setengah juta tahun lamanya.

Hanya setelah menjalani berbagai persiapan teliti seperti itulah “langkah kecil” yang akan menghasilkan “lompatan raksasa” bagi seluruh umat manusia itu bisa diambil.

Para ahli psikologi memperkirakan bahwa manusia hanya menggunakan sepuluh persen dari kemampuan bawaannya. Professor William James dari Universitas Havard telah mengamati dengan teliti, “Kita belum siap menjadi sebagaimana diri kita seharusnya”. Meskipun sudah memiliki sejumlah kualitas alami sejak lahir, kesuksesan yang mestinya sudah bisa diraih ternyata masih jauh dari kenyataan.

Penyebab sederhana, yaitu tanpa disadari kita merasa puas menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja. Kemudian, kalaupun kita merasa tidak puas, kita menyalahkan orang lain karena tidak memberikan hak kita. Padahal sebenarnya ke dalam batin sendirilah seharusnya kita menelisik sebab mengapa hidup kita masih diliputi kekurangan. Terus menerus melihat orang lain dengan perasaan iri dan selalu mengeluh tidak akan membawa kita kemana-mana.

Kenyataan harus dihadapi dengan jujur dan apa adanya bahwa hanya dengan memanfaatkan potensi diri sepenuhnya, kita akan mencapai kesuksesan. Apa pun jalan selain itu akan mengarahkan kita pada kegagalan. Namun di atas semua itu, yang terpenting adalah kita harus memastikan apakah upaya kita sudah mengarah pada tujuan yang semestinya. Karena tanpa arah yang tepat, potensi kita hanya akan sia-sia.

Sebuah gunung, meskipun menjulang tinggi dan besar, tidak sanggup membuang sebutir kerikil pun dari permukaan punggungnya. Akan tetapi kuncup-kuncup lembut dan kecil tanaman rambat ini bisa menguak ubin berlapis semen dan menembusnya untuktumbuh menjulang. Dari manakah kekuatan sebesar itu? Sumber energinya adalah fenomena misterius yang kita sebut dengan kehidupan.

Hidup adalah sebuah proses semesta tanpa henti sekaligus menakjubkan suatu kekuatan yang akan menuntut haknya di dunia ini. Sehingga, meskipun dicabut akarnya ia tetap hidup di satu atau lain tempat dan akan muncul Kembali begitu ada kesempatan. Tepat pada saat orang-orang menyimpulkan kehidupannya telah berakhir karena tidak ada yang tampak dari permukaan, saat itulah ia menyembulkan kepalanya dari puing-puing reruntuhan.

Orang kerap terjun dan menyibukkan dirinya dalam karier, menceburkan diri di dalamnya tanpa piker Panjang, tanpa memikirkan matang-matang kapasitas mereka yang sebenarnya dan memepertimbangkan apakah mereka meiliki potensi nyata yang bisa dikembangkan.

 Terkadang, mereka disessatkan oleh pertimbangan- pertimbangan sepele, pendapat tak berdasar, dan berbagai emosi yang sangat kuat, kemudian menyambar apa saja yang pertama mereka temui secara sembrono. Ketika hasilnya tidak sesuai yang diharapkan, mereka menjadi saling menyalahkan, mengeluhkan kerugian dan kegagalan yang terjadi, dan menuduh semua itu terjadi karena orang lain. Karena itu, mereka frustasi dan karier merka berakhir sia-sia.

Andai saja dipikirkan matang-matang persoalan tersebut, mereka pasti menyadari bahwa kesalahan terletak pada perencanaan mereka yang tidak matang atau bahkan sama sekali tak berarah-tujuan. Andai saja mereka memulai dengan arah tujuan yang tepat, orang lain pasti tidak akan punya kesempatan menghalangi jalan dan mengubah kesuksesan mereka menjadi kegagalan.

Suatu tujuan atau cita-cita mestinya dicapai dalam jangka waktu sepuluh tahun, tetapi Anda malah ingin mencapainya dalam sepuluh hari saja. Ini artinya And ingin sampai ke tempat tujuan dengan lompatan dan besutan yang maha hebat. Tetapi ada pepatah lama yang menyatakan: “Semakin tergesa justru semakin lambat.”

Sebagaimana menunda itu salah, terlalu tergesa-gesa juga tidak bijaksana. Semua pekerjaan bisa diselesaikan dengantepat sesuai waktu yang dibutuhkan. Melakukan pekerjaan dengan terburu-buru tidak karuan juga merupakan tanda ketidaksabaran. Di dunia ciptaan Allah ini, di mana setiap peristiwa ada waktunya sebdiri-sendiri, kedua jenis ekstrem tadi hanya akan mengarah kepada kegagalan.

Salah satu kualitas seorang mukmin sejati telah disebutkan dengan gamblang dalam Al Qur’an. Yaitu apabila mereka sedang berada Bersama-sama Nabi atau dengan kata lain orang yang bertanggung jawab atas urusan kaum muslimin “dalam perkara yang menuntut adanya pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya … ” apapun yang melibatkan sekelompok orang yang bekerja secara Bersama-sama. Sementara “meminta izin” menunjukkan adanya semangat yang lebih besar dalam pengerjaan urusan bersama tersebut semangat komitmen yang dirasakan seseorang terhadap pekerjaan probadinya.

Ketika kita sudah berpikir bahwa kebaikan Bersama adalah kebaikan kita juga, maka kita akan sepenuhnya berkomitmen melaksanakan pekerjaan Bersama.

Ada dua macam pengetahuan: yang sudah diberikan kepada kita berupa Al-Qur’an dan Hadits, dan yang kita peroleh dari hasil penelitian dan usaha kita sendiri. Pengetahuan jenis pertama membuat kita mengenal Allah dan mengetahui apa-apa saja yang akan kita hadapi di akhirat nanti setelah mati. Lebih penting lagi, pengetahuan ini membimbing kita menjalani kehidupan di dunia untuk mempersiapkan diri menghadapi hal-hal tersebut. Adapun pengetahuan jeni kedua menyediakan solusi bagi problem sosial dan ekonomi yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan utama hidup seorang muslim selayaknya adalah menguasai pengetahuan tentang Al-Qur’an dan Hadits. Ilmu-ilmu sekuler membantu kita dalam urusan duniawi saja, memberi kita pedoman soal pertanian, industri dan kehidupan sebagai warga negara. Hanya Al-Qur’an dan Haditslah yang mengarahkan langkah kita pada jalan menuju Pembangunan batin. Jelasnya, sama pentingnya bagi muslim seperti orang lain untuk mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan.  

Pembuat Sinopsis: Prabu

udul : Mukjizat Bermental Sukses

Penulis : Maulana Wahiduddin Khan

Penerbit : Zaman

Cetakan : 2015

Tebal Buku : 322 Halaman